Tugu Pahlawan Tak Dikenal Di Kawasan Pedestrian Jam Gadang


Tugu Pahlawan Tak Dikenal berada masih dalam kawasan pedestrian Jam Gadang. Tugu ini berhadap hadapan dengan Taman Monumen Proklamator Bung Hatta. Di depan Tugu Pahlawan Tak Dikenal terdapat sebuah prasasti yang menceritakan kisah dibangunnya tugu ini.

Tugu Pahlawan Tak Dikenal dibangun untuk mengenang perlawanan pada pahlawan yang tidak bisa dikenali secara pasti dalam menentang kolonialisme Belanda pada tanggal 5 Juni 1905. Para pahlawan ini menentang diberlakukannya sistem pajak oleh pemerintah Hindia Belanda.



Peletakkan batu pertama dilakukan oleh Jendral A.H. Nasution tanggal 15 Juni 1963 dan diresmikan pada tahun 1965. Kontruksi Bangunan tugu Pahlawan Tak Dikenal diciptakan oleh seorang seniman bernama Hoerijah Adam (1936 – 1971). Hoerijah Adamini meninggal akibat kecelakaan pesawat Merpati pada tahun 1971.


Tugu Pahlawan Tan dikenal ini berbentuk ornamen ular naga besar yang melingkar. Dibagian atas ornamen berdiri seorang pemuda yang memegan bendera. Sekarang patung itu sudah diganti dan tidak lagi memegang bendera akibat disambar petir. Di sisi lain tugu dihiasi dengan lingkaran tembok pagar yang dipenuhi relif yang menggambarkan perlawanan rakyat yang menentang Kolonialisme Belanda untuk merebut kemerdekaan Indonesia.

Disamping kanan Prasasti Tugu Pahlawan Tak Dikenal, terpahat puisi dari Muhammad Yamin. Puisi yang berjudul Pahlawan Tak Dikenal. Puisi ini berbunyi “MATI LUHUR TIDAK BERKUBUR. MEMUTUSKAN JIWA MENINGGALKAN NAMA. MENJADI AWAN DI ANGKASA. MENJADI BUIH DI LAUTAN. SEMERBAK HARUMNYA DI UDARA”.


Sekarang Tugu Pahlawan Tak Dikenal sudah dijadikan objek wisata. Pengunjung bisa mengitari areal tugu sambil menikmati sejuknya hembusan angin di sekitar tugu. Di Sebelah kanan tugu arah ke Jam Gadang sudah dibangung mushala Al-Yazid. Pengunjung muslim yang sedang menikmati wisata di kawasan pedestrian Jam Gadang ini bisa melaksanakan Shalat di sini. (Malin Basa)